Puluhan pria duduk bersila di tiga panggung kecil yang diterangi sekian warna lampu. Mereka mengenakan kain sarung merah dipadu baju gamis putih. Memainkan beberapa alat musik, terkadang bersenandung, berteriak, merespon seorang 'dalang' yang berada tepat di depan tengah panggung.
Senin (6/11) malam itu, selama lebih dari dua jam mulai pukul 19.00, karya-karya puisi Mathori A Elwa yang terangkum dalam "Rajah Negeri Istighfar" dipentaskan dengan penyelenggara Himpunan Sastrawan Muda Indonesia (Hismi) bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan Aksara Indonesia. Pesan-pesan yang mengalir, seakan menuturkan hal-hal yang semestinya secara wajar dilakukan oleh makhluk yang bernama manusia.
Serasa cermin, kembali mengingatkan agar selalu ingat Yang Maha Kuasa dalam segala nafas yang kita miliki. Tatkala telah hadir saat kematian, maka apapun tak mampu menolong kecuali hal-hal yang telah ditetapkan.
Secara singkat visualisasi dan musikalisasi puisi tersebut diwakili oleh kisah manusia, ada orang sekarat, lengkap dengan suasana sakaratul maut saat nyawa dicabut, teriak histeris sanak keluarga, dan tak lupa prosesi yang menghadirkan keranda beserta tabur-tabur bunga.
Selain 'dilagukan' dengan mengutip beberapa ayat Al Quran, puisi-puisi itu juga dibaca seperti layaknya pembacaan serupa. Puji-pujian Islam bergaya Jawa, pembacaan ayat-ayat tetentu beserta terjemahannya, menjadi sajian yang 'menyentuh hati'.
Mathori memang hampir tidak membawakan puisinya sendiri di atas panggung. Malam itu pendukung acara adalah beberapa seniman muda, termasuk musik tradisional Pesantren "Al Badar", Hadrah PP Binaul Ummah Wonolelo Pleret Bantul, Syi'ir Kubur PP Fadlun Minal- lah Wonokromo Bantul.
Konser puisi tersebut bertindak sebagai sutradara KH Muhammad Khatib dan H Zainal Arifin Thoha, penata artistik oleh Fauzan Rafiqun, pengarah proses We'es Ibnoe Say, KH D Zamawi Imron, M Imam Aziz, dan Bambang Darto. Sedangkan supervisi dilakukan oleh KH Mustofa Bisri.
Pada akhir acara Mathori mengatakan, bahwa pentas ini adalah sebuah permulaan. "Dan seperti malam ini, semoga lain kali kita bisa dipertemukan oleh nuansa ketulusan malam ini," katanya sembari menekankan, acara ini sungguh berharga lantaran semua pendukung acara benar-benar hadir tanpa ada imbalan sepeserpun.
Dan ketulusan menjadikan semuanya indah meski sederhana. Bahkan sesaat sebelum acara berakhir, ada kerusakan teknis sound sistem. Namun sebagai permulaan -- seperti yang dikatakan Mathori, rasanya pentas itu relatif cukup layak dibanggakan, setidaknya pesan-pesan tentang cerita hidup hingga mati telah disajikan dengan sejuta makna. (cr8) [Bernas, 9 Nopember 2002]
Rabu, Juli 02, 2008
Selasa, Juli 01, 2008
Pemimpin yang Tak Termalukan: Sajak ”Melawan Arus Samiri” Mathori A Elwa
HAMPIR dalam setiap pertikaian elite politik di negeri ini, selalu muncul pernyataan-pernyataan ganjil, yaitu repetitif dari kalimat: ”Jangan sampai ada yang dipermalukan.” Maksudkan tentu saja, apapun kejadiannya jangan sampai ada di antara para elite itu yang dipermalukan. Tentu saja pernyataan ini aneh jika ditilik dari tujuan dibentuknya elite politik itu. Demi 220 juta rakyat, maka jika memang diperlukan, mempermalukan beberapa orang elite politik adalah harga yang sangat murah. Pemimpin dipilih untuk tujuan-tujuan pemilihnya, bukan sebaliknya.
Pokok tema inilah yang secara galak diamanatkan dalam sajak Mathori A. Elwa, ”Melawan Arus Samiri” (termuat dalam kumpulan Rajah Negeri Istighfar, Aksara Indonesia, Yogyakarta 2000, hlm. 53-82). Sajak ini terdiri dari 49 bait, masing-masing bait diberi nomor (000) sampai (048). Sebagian besar bait itu diawali dengan tiga baris awal: kudoakan engkau / menjadi presiden /menggantikan gus dur /. Semiotik dari ”engkau”, ”presiden” dan ”gus dur” dalam pokok tema sajak ini adalah pemimpin (elit). Dalam bait (018) pokok tema ini dipersempit lagi dalam personifikasi Kanjeng Samiri: .../jangan coba-coba melawan raden ngabehi kanjeng samiri/ ... Semiotik dari bait ini adalah pemimpin munafik.
Siapa yang dimaksud MAE dengan Samiri ini? Jawabannya bisa saja a atau b atau a+b, atau a...z. Dalam pemahaman makna semesta, jawaban seperti itu tidak penting. Tulisan ini sekadar mencoba memaknai lebih lanjut dalam kerangka semiotik pokok tema dari sajak panjang ini.
Nama Samiri dalam sajak ini jelas sekali diambil oleh MAE dari cerita Qur’an, yaitu tokoh yang hidup sezaman dengan Nabi Musa dan Harun (lihat Thaha: 85-97). Samiri adalah seorang penyembah sapi, dan tokoh yang sangat berpengaruh dalam masyarakat Yahudi. Secara munafik ia pura-pura menjadi pengikut Musa. Ketika Musa pergi, Samiri membuat patung anak sapi dari emas yang jika tertiup angin bisa berbunyi. Atas perintah Samiri patung anak sapi ini disembah oleh sebagian pengikut Musa. Masyarakat Yahudi terpecah menjadi dua, yang konsisten mengikuti ajaran Musa, dan yang kembali menyembah sapi. Kepada Musa, Samiri berkata: ”Aku ikuti sedikit ajaranmu, kemudian aku lupakan, karena begitulah aku diperintah oleh nafsuku.” Semiotik Samiri dalam Qur’an adalah nafsu yang memerintah.Samiri dalam MAE adalah ‘engkau’ yang ‘pemimpin’; seperti sifat berikut dalam bait (029) dan (044), yang bisa paling mewakili di antara bait-bait yang lain: (029) / ujian adalah sunatullah / yang lolos naik derajatnya / yang gagal menyesal / kemudian tak berguna / bangsa kita membutuhkan banyak hanya / orang-orang sengsara / agar kita makin canggih mengamati / siapa naik derajat sejati / siapa pura-pura jadi sufi / siapa tak berguna lalu mati / habis manis sepah dibuang / tidak manis dibiarkan kelaparan / bermanis-manislah kalau mau diperhatikan / begitu jugakah dengan Tuhan? // (044) / bangsa yang tak / berpikir siapa pemimpinnya adalah / bangsa yang tersedot / hawa nafsunya / tapi jika hanya pikiran yang kaupakai untuk / menilai / bersiaplah untuk berkata dingin tanpa rasa: / emangnya gua pikirin? / mathori baru tahu rasa//.‘Mathori’ bisa bermakna sang penyair sendiri. Dalam kerangka semiotik ‘mathori’ adalah representatif dari korban kemunafikan para pemimpin (Samiri) yang tidak memikirkan ummatnya. Dalam konstelasi politik, baik yang demokratis maupun yang otoriter, kekuasaan (akses kebijakan publik) selalu dipegang kelompok elite (minoritas). Di dalam demokrasi yang ideal sekalipun, kekuasaan terhadap kebijakan publik tetaplah dipegang oleh minoritas. Bedanya dengan otoriter, kekuasaan demokratis bisa diganti setiap saat diperlukan oleh publik. Kelompok elite baik dalam demokrasi maupun otoriter memiliki naluri untuk mempertahankan kekuasaannya. Adagium bahwa hanya tokoh politik yang selalu ingin dipilih kembali dan dipilih kembali adalah benar dan terbukti.
Lapangan perebutan kekuasaan itulah yang mendorong timbulnya karakteristik Samiri. Apapun bisa dilakukan asalkan menang. Sebab kelebihan sekaligus kelemahan demokrasi hanyalah soal jumlah suara. Dan jumlah suara itu hanya bisa diperebutkan dengan tiga perkara saja: diplomasi, senjata dan ekonomi. Pengertian ketiganya sangatlah luas dan kompleks dan pada perwujudannya sering tampak muskil.
Wacana perebutan kekuasaan sangat terbuka dalam kancang demokrasi, sebaliknya wacana pengelolaan kekuasaan yang benar (menyenangkan dan menyejahterakan banyak orang) tidak muncul. Teks sajak MAE, ”Melawan Arus Samiri” adalah perenungan mendalam atas pengalaman empirik penyairnya terhadap kemunafikan kepemimpinan dan proses perebutan kekuasaan yang tiada habis-habisnya. Dalam konteks semiotik Samiri, kekuasaan adalah cara sekaligus tujuan, apapun bisa diabaikan, juga perasaan malu. Semua itu membuat penyair ini nanar.! ***Agus Fahri Husein, budayawan. [Dikutip dari Minggu Pagi, No. 14 Th. 56 Minggu 1 Juli 2003]
Sabtu, Juni 28, 2008
Rajah Negeri Istighfar

Kumpulan sajak tunggal ke-2 Mathori ini berisi 15 sajak (104 halaman) yang semua sajak ditulis pada tahun 2000. Diterbitkan oleh Yayasan Aksara Indonesia (Yogyakarta) pada Sepetember 2000. Berbeda dengan kumpulan sajaknya, Yang Maha Syahwat (YMS), yang kebanyakan amat liar, Rajah Negeri Istighfar (RNI) memperlihatkan kecenderungan Mathori untuk mengeksplorasi pengalaman religius secara lebih "tradisionil" dan kalem. Simbol-simbol tradisi kepesantrenan atau kesantrian lebih menonjol dibanding sajak-sajaknya dalam YMS. Sajak-sajak yang termuat dalam antologi ini meliputi: 1. Kepada Hadhratus-Syaikh Hasyim Asy'ari, 2. Menjadi Mayat, 3. Sudah Remuk, Sudah Membusuk, 4. Zakiyyatul A'immah, 5. Lirboyo Serambi Masjid, 6. Di Jampes Teringat Jamsaren, 7. Kini Sudah Tiada, 8. Cinta Monyet, 9. Negeri Istighfar, 10. Surat Malang Melintang, 11. Melawan Arus Samiri, 12. Hizib Gus Dur, 13. Akhirnya Kita Berjumpa, 14. Akan Ada Cinta, 15. Orang Al-Fatihah. Disertai Catatan Tentang Penyair yang ditulis Joni Ariadinata, buku ini termasuk langka karena sudah sulit mendapatkannya di pasaran. Maklum, penerbitnya sudah KO. Beruntung suatu hari mathorisliterature.blogspot.com mendapatkannya di Tobucil, Bandung.
Rabu, Juni 25, 2008
Kupinang Engkau dengan Sajak

kupinang engkau, kekasih
dengan sajak
suka dan duka kita satukan
petaka dan keberuntungan
ialah malam dan siang
marilah kita sama-sama dekap
erat-erat
di setiap laut pasti ada ombak
karena angin adalah kekasihnya
dan setiap cinta ada nyerinya
karena cemburu adalah darah apinya
rindu kita sudah sama-sama mendidih lama sekali
dan setiap pagi
di musim dingin nanti
kita akan mandi bersama
air hangat kehidupan
agar kita sama-sama tahu
makna sesungguhnya kebersamaan
kita telah lama berangkat dewasa
hingga ingin menjadi kanak-kanak semula
pada hari libur suamimu akan bersiul di depan rumah
minum kopi kelegaan
ada saat di mana pekerjaan dan tetekbengek soal masyarakat
kita anggap sebagai bola sepak atau sarana olahraga
atau makanan tambahan dari kehidupan
engkau memasak makanan favorit kita
dan aku membersihkan mobil dan beranda
melupakan kemiskinan
hari-hari akan kita lalui dengan mulus
dan setiap malam jumat kita harus beribadah
agar menghasilkan anak yang berkualitas
kehidupan harus kita seduh bersama
agar seperti kopi atau teh nasgitel
sedap rasanya
kematian dan duka cita
kapan-kapan pasti datang
seperti godaan dan kesulitan-kesulitan
besar atau kecil
sudah pasti ada
dan itulah realitas. Ah!
tapi kita harus tersenyum terus
menyambut apa atau
siapapun yang datang ke rumah kita
jangan tanya mau apa
kita akan berikan apa yang terbaik bagi tamu tuhan itu
apa yang ia mau
mungkin kita bisa membantu
melaksanakan kebajikan
yang susah direalisirnya
ketika sore tiba
kita sediakan waktu yang khusus untuk
memikirkan hal-hal yang terdalam
dari kehidupan yang serba materialistik ini
dan jika malam tiba
kita bisa beribadah lagi
sebagai suami-istri
kita perlu nafkah batin
dan saat yang tepat
setelah shalat ‘isya’
untuk saling menyelimuti
kita bersyukur diciptakan sebagai manusia yang sempurna
dan lengkap
punya hati, onderdil unik yang hebat
dan berfungsi
meskipun nampak aneh ketika kita sama-sama bercermin
orang lain tetap tak boleh
tahu detil apa yang kita lakukan
dengan benda-benda aneh dan rahasia kita
anugerah yang mahakuasa
dulu ketika kecil
kita mungkin pernah berkhayal menjadi pengantin
dan nanti kita tidak sedang berkhayal lagi
sudah tidak musim
kita sudah sama-sama dewasa
bukan kanak-kanak mula
meskipun jika kita berdua
malam-malam begini
kita sudah lupa
bahwa kita benar-benar jadi anak-anak kembali
manja sekali
kupinang engkau suatu saat
secepatnya
setiap makhluk ada pasangannya
(kalau tidak, bukan makhluk namanya)
aku sudah besar
engkau pun demikian
tunggu apa
kita sama-sama mapan
jika ada masalah
semua dapat ditata
kesulitan pasti ada
karena itu tantangan
lelaki sejati pantang menyerah
perempuan sejati juga pantang menyerah
apapun bisa saja terjadi
dan kita dianugerahi otak dan hati
tuhan menyediakan doa, sedekah dan sillaturrahmi
sebagai fasilitas spiritual
untuk mengubah takdir dan nasib buruk
garis hidup yang misterius
tapi benar-benar nyata
ada kalanya kita juga bisa pening
menghadapi peliknya hal dan soal
ada kalanya kita mudah melupakannya
itulah isi dunia
kita punya banyak kehendak
tuhan yang menentukan
(salah sendiri banyak keinginan
mestinya satu, dua, atau tiga saja)
selebihnya wallahua‘lam, tawakkal
kita serahkan
baik atau buruk
sudah digariskan
tapi tetap saja kupinang engkau segera
setiap pagi ada embun
hinggap di apa saja
tapi tidak setiap siang ada matahari
tak setiap malam ada bintang atau rembulan
tapi terimalah lamaranku, kekasih
agar matahari tetap bersinar
bintang-bintang menghiasi langit
dan purnama kehidupan
mewarnai malam-malam kita
pepohonan tumbuh atau berguguran
alam bernyanyi
seperti burung-burung yang berkicau di pagi buta
kehidupan jadi fajar
cinta kita hangat dan berangsur membara
agar istirah kita
di senja nanti enak dan surga
kita sepakat untuk tidak mudah marah
dan cemburu buta
apalagi keluar sumpah serapah
kita punya mulut yang bagus
untuk saling berciuman
bukan saling mengumpat
kita punya tangan yang lentur dan sempurna
untuk saling meraba
bukan saling menampar
kita punya badan dan jiwa yang sehat
untuk bergesekan dan bersetubuh
bukan saling berjauhan
dan terimalah bisikan cintaku
dan pasrah jiwaraga
di haribaanmu yang lembut dan suci
kupinang engkau dengan sajak
dan cinta
setiap duka ada akhirnya
setiap luka ada obatnya
setiap lakon ada endingnya
tapi inilah awal kita memulai
membuat lakon bersama
mengarungi takdir yang lebih baru
melintasi samudra cinta kasih
menuju kebahagian lahir dan batin
sesuai pancasila
dan undang-undang dasar ’45...
Mathori A Elwa
Selasa, Juni 24, 2008
Catatan untuk Kebencian

kebencian, telah kucoba melupakanmu
setiap berpapasan denganmu
kupalingkan wajahku ke langit dan cakrawala cinta
dasar setan belut
tubuhmu selalu saja tak kukenali: luput
tak kusadari tahu-tahu engkau telah menjelma cinta palsu
yang kupuja dan kubela-bela sampai sekarat
kaujebak aku dalam lingkaran kebusukan
apakah jika begitu aku kudu memusnahkanmu?
Mathori A Elwa, 20, 2, 2004
setiap berpapasan denganmu
kupalingkan wajahku ke langit dan cakrawala cinta
dasar setan belut
tubuhmu selalu saja tak kukenali: luput
tak kusadari tahu-tahu engkau telah menjelma cinta palsu
yang kupuja dan kubela-bela sampai sekarat
kaujebak aku dalam lingkaran kebusukan
apakah jika begitu aku kudu memusnahkanmu?
Mathori A Elwa, 20, 2, 2004
Wesiate Santri Luwung
- Aja pisan-pisan turu yen durung bisa turu, mundak Ngimpi.
- Aja pisan-pisan nyopir yen durung bisa nyopir, mundak Tabrakan.
- Aja sugih turu banda males, nanging sugiya wirid/amal banda Disiplin.
- Aja gela kang wus kelakon aja mamang kang bakal teko kareben ora dadi anak Bingung putu Susah.
- Yen ing ngarsa Gusti nganggoa tatakrama Peqir-Miskin-Bodho-Asor, iku srana kanggo sira kareben ora dadi anak Balak putu Coba.
- Yen ing ngarso kawula anganggoa tata-krama Budi-Luhur-Sabar-Narima, iku srana kanggo sira kareben dadi anak Slamet putu Beja.
- Kanti Temen kuncine Ketemu, kanti Mlaku kuncine Tumeka,
kanti Melek kuncine Weruh, kanti Betah kuncine Butuh. - Kabeh iku mau lakanana kanti Lila-Legawa ngreksa Bawana.
Saking kula: Santri Luwung, Bodho Lelo-Lelo
Minggu, Juni 22, 2008
Aku Pernah Sianggah di Kotamu
Buku terbaru Mathori ini memang amat tipis, 66 halaman. Tapi agak berbeda dengan kumpulan sajak Mathori sebelumnya--Yang Maha Syahwat (LKiS, 1999) dan Rajah Negeri Istighfar (Yayasan Indonesia, 2001), Aku Pernah Singgah di Kotamu menampilkan sajak-sajak yang beragam. Diterbitkan oleh Penerbit Kiblat Buku Utama, Bandung. Ingin memiliki koleksinya? Hubungi Kiblat Buku Utama Jl. Citamiang No. 33 Bandung 40121 Telefax: 022-7104620
Langganan:
Postingan (Atom)
